Dirut PT KPBN, Diperiksa KPK

Hits: 5

Cyberjatim.com-

Ilustrasi KPK ( Foto: BeritaSatu Photo / Uthan A Rachim )

Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan memeriksa Dirut PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Edward Samantha, Senin (23/9/2019). Petinggi anak usaha holding PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) itu dijadwalkan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap distribusi gula di PT Perkebunan Negara (PTPN) III Tahun 2019 yang menjerat bos PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi.

“Yang bersangkutan diperiksa‎ sebagai saksi untuk tersangka PNO (Pieko Nyotosetiadi),” kata Jubir KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi.

Edward diduga kuat mengetahui sengkarut kasus dugaan suap tersebut. Corry Luca, pegawai PT KPBN sebelumnya diketahui mengantarkan uang sebesar SGD 345.000 Singapura kepada Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana di Kantor KPBN. Diduga uang yang diantarkan Corry Luca itu berasal dari bos PT Fajar Mulia Transindo, Pieko Nyotosetiadi.

Selain Edward Samantha, penyidik juga menjadwalkan memeriksa Sekretaris Direktur Pemasaran PTPN III Holding, Adinda Anjarsari; Kepala Divisi Pemasaran Direktorat Pemasaran PTPN III Holding, Arief Budiman; dan Mantan Ketua KPPU, M Syarkawi Rauf. Ketiganya juga akan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Pieko Nyotosetiadi.
Diketahui KPK menetapkan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) Dolly Pulungan, Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana dan pengusaha gula yang juga bos PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula di PTPN III tahun 2019. Penetapan ketiganya sebagai tersangka ini dilakukan KPK melalui gelar perkara setelah memeriksa intensif sejumlah pihak yang ditangkap dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Dolly melalui Kadek Kertha Laksana diduga menerima suap sebesar SGD 345.000 dari Pieko. Suap ini diberikan terkait distribusi gula di PTPN III.

Pieko merupakan pemilik dari PT Fajar Mulia Transindo dan perusahaan lain yang bergerak di bidang distribusi gula. Pada awal tahun 2019 perusahaan Pieko ditunjuk menjadi pihak swasta dalam skema long term contract dengan PTPN III (Persero).

Dalam kontrak ini, pihak swasta mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan selama kontrak berjalan. Di PTPN III terdapat aturan internal mengenai harga gula bulanan yang disepakati oleh tiga komponen yaitu PTPN III, Pengusaha Gula, dan ASB selaku Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI). Dalam sebuah pertemuan, Dolly meminta uang pada Pieko terkait persoalan pribadinya untuk menyelesaikannya melalui ASB.

Dolly kemudian meminta Kadek Kertha Laksana untuk menemui Pieko untuk menindaklanjuti permintaan uang sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Pieko memerintahkan orang kepercayaannya bernama Ramlin untuk mengambil uang di money changer dan menyerahkannya kepada Corry Luca, pegawai PT KPBN anak usaha PTPN III di Kantor PTPN, Jakarta, pada Senin (2/9). Selanjutnya Corry mengantarkan uang sebesar SGD 345 ribu kepada ke Kadek Kertha Laksana di Kantor KPBN.

Sebagai tersangka penerima suap Dolly dan Kadek disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, Pieko dijerat dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP dan Pasal 55 Ayat (1) ke-1KUHP.

 

Fana Suparman / FMB
Sumber: ( Suara Pembaruan/bs/*)

cyberjatim

Jembatan Pena Rakyat